Home » , , » Pembenihan Lele Sangkuriang

Pembenihan Lele Sangkuriang

Written By ukm dan wirausaha on Rabu, 20 Juli 2011 | 19.05

Tingginya konsumsi ikan lele membawa berkah bagi pembudidaya benih lele sangkuriang di Cibeureum, Bogor. Mereka kebanjiran pesanan benih dari usaha pembesaran ikan lele. Dalam sebulan, ada pembudidaya benih lele mampu mendulang omzet hingga Rp 60 juta.

Warga Bogor, Jawa Barat, sudah mengenal baik kawasan Cibeureum yang masuk wilayah kelurahan Mulya Harja itu. Jika Anda ingin berkunjung ke sana, warga setempat bahkan dengan senang hati menunjukkan lokasi sentra budidaya benih lele sangkuriang itu.

Tetapi sentra pembenihan lele itu tidak seperti sentra lainnya dengan lokasi usaha yang saling berdekatan. Pembenihan lele di Cibeureum itu tersebar dan terpisah di beberapa lokasi. Setiap pembudidaya memiliki kolam pembenihan dengan jarak satu sama lain bisa sejauh ratusan meter. Namun begitu, mereka masih berada di satu desa, yakni desa Cibeureum.

Sentra ini tentu juga sudah sangat dikenal para pembudidaya pembesaran lele. Apalagi, setiap pembudidaya sudah memiliki pelanggan tetap untuk belanja benih. "Benih lele sangkuriang menjadi incaran pembudidaya pembesaran," kata kata Ade Mulyadi, salah satu pembudidaya benih lele Sangkuriang.

Ade juga mengklaim, benih lele di Cibeureum lebih unggul ketimbang benih dari daerah lain. Sebab, benih lele sangkuriang berkembang pada temperatur udara yang sejuk, ditambah dengan pasokan air yang berkualitas.

Kolam budidaya milik Ade saat ini sudah mampu menghasilkan 400.000 benih per bulan. Benih sebanyak itu berasal 17 indukan. Namun begitu, Ade mengaku masih kewalahan untuk memenuhi permintaan yang datang tidak hanya dari Bogor, tapi dari Jawa Timur.

Jika permintaan tidak bis adia penuhi, pria berusia 41 tahun itu akan mencari bibit ke tempat lain. "Tidak semua pesanan bisa saya penuhi," kata Ade yang sekarang fokus menaikan produksi.

Kendala dalam menekuni bisnis pembenihan adalah-proses pengiriman benih terutama untuk luar kota Selain biaya mahal, waktu pengiriman yang lama bisa meningkatkan risiko kematian benih. "Terkadang biaya pengiriman lebih mahal dari harga lele," keluh Ade.

Namun begitu, Ade melihat usaha budidaya benih lele memiliki peluang yang cerah. Apalagi, pemerintah gencar kampanye peningkatan produksi lele akibat naiknya konsumsi lele. Untuk Bogor saja, konsumsi lele per hari mencapai 15 ton-20 ton.

Kenaikan permintaan lele membuat pembudidaya pembesaran lele juga menaikan produksi. Nah, kenaikan produksi itulah yang mendongkrak kebutuhan benih lele.

Dari banyak jenis benih lele, Ade memilih membenih-kan lele sangkuriang. Selain waktu pembesaran lebihcepat, lele sangkuriang juga mudah dalam perawatan sehingga ongkos pembesaran pun menjadi lebih hemat.

Untuk harga, Ade menjual benih lele Rp 140 per ekor.  Dengan produksi 400.000 ekor benih lele, ia mendulang omzet Rp 60 juta dengan laba bersih Rp 15 juta perbulan. ; "Omzet mesti dipotong biaya pakan 30% dan juga gaji tujuh karyawan," kata Ade.

Pembudidaya lele sangkuriang lainnya, Supardi Badria-wan, mengaku saban bulan bisa mengantongi Rp 10 juta. Padahal, dia hanya bisa memproduksi 100.000 ekor benih setiap bulan.

Laki-laki yang akrab 1dipanggil Ipad mengaku,1pendapatannya sekarang lebih besar ketimbang menjadi perajin sandal. "Meski harga pakan naik, tapi keuntungan saya lebih baik daripada produksi sandal,"  kata ayah satu anak ini.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. blog ukm dan wirausaha - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger